Murakawa. (Foto : Istimewa)

TOKYO, AKTIFLAB.com -- Usia tak mengenal batas ketika berbicara soal mengejar pengetahuan. Dan inilah yang dilakukan Murakawa. Pria berusia 98 tahun itu sedang menempuh pendidikan di Momoyama Gakuin University di Osaka.

Perjalanannya memulai beasiswa dimulai pada lima tahun lalu ketika ia memutuskan mengikuti kuliah di Sejarah Politik Internasional. Saat ini, Murakawa juga terdaftar dalam kuliah Hukum Internasional.

Murakawa tak terpengaruh dengan jarak dari rumahnya. Dalam seminggu ia dua kali menumpangi kereta api dan bus untuk perjalanan dua jam ke kampusnya.

Setelah berhasil lolos dari bahaya gempa bumi di Kanto pada 1923 serta perang Pasific, Murakawa mulai bekerja di pabrik. Karena ia tak memiliki kesempatan belajar di usia mudanya, Murakawa bertekad untuk mengubahnya apalagi ia sekarang memiliki kesempatan.

"Mendapat kesempatan, saya ingin belajar sebanyak mungkin," kata Murakawa seperti dikutip RockterNews24, Jumat (8/2/2013).

Di dalam kelas, pria ini duduk dengan tegak dan membuat siswa muda cemburu dan kewalahan karena Murakawa mendengarkan dosen dengan tekun.

Contohnya saja pada 24 Januari, ia sedang kuliah Sejarah Politik Internasional. Murakawa duduk tepat di depan dosennya dengan catatan yang terbuka. Dengan gaya Jepang, Murakawa menempatkan bantal di tempat duduknya. Saat itu ia mendengarkan isi kuliah selama 90 menit, sementara banyak siswa yang secara bertahap mulai gelisah atau berjuang untuk fokus. Tapi tatapan Murakawa benar-benar tertuju ke dosen.

Murakawa berasal dari Asasuka di Tokyo. Masa mudanya, Murakawa selamat dari gempa besar yang terjadi pada 1923 yang mengakibatkan rumahnya terbakar. Saat itu, mendapatkan pendidikan yang tinggi bukan pilihan yang mudah.

Selama perang, Murakawa berperan sebagai tenaga medis tempur di garis depan. Ia kehilangan banyak temannya akibat penembakan brutal.

Setelah perang berakhir, Murakawa berusaha menjalankan sebuah pabrik jahit di Osaka, yang mengkhususkan pada busana pria. Ia bekerja sampai berusia 85 tahun. Istri Murakawa sudah meninggal dunia dan kini ia tinggal sendirian.

Meskipun ia mendapatkan prestasi yang besar dalam pekerjaannya sebelum pensiun. Murakawa mengingat kembali pengalamannya saat perang dan bertanya-tanya makna di balik perang itu apa? "Sekarang setelah sekian lama, saya ingin mengeksplorasikan ide ini lebih lanjut dengan pendidikan," ujar Murakawa.

Tampaknya, sikap pria ini mengagumkan. Ia dikenal orang yang mau berbaur dengan kaum muda dan bersungguh-sungguh dalam pelajaran.

Dengan duduk mendengarkan kuliah, Murakawa merasa ia berkembang dan memahami situasi di balik kepentingan negara masing-masing dan motivasi, dan tentara Jepang yang ceroboh.

"Apa pun alasannya, pergi berperang saja tidak dibenarkan. Pentingnya mencari waktu untuk membahas masalah secara rasional dan fokus pada metode penyelesaian damai jangan dianggap remeh," ujar Veteran itu.

Murakawa juga baru mencoba belajar Bahasa Inggris. Ia melihat sebuah iklan yang bertuliskan Bahasa Inggris beberapa waktu lalu.

"Pada awalnya saya tidak mengetahui apa artinya tapi setelah belajar sedikit, itu membuat saya lebih mengertl," ujarnya.

Namun, yang menjadi perhatian Murakawa tentang sikap pemuda saat ini. Duduk di meja, dan semuanya tak berinisiatif untuk bertanya.

"Setelah lulus, meskipun banyak yang tidak menyukainya, Anda harus bekerja untuk bertahan hidup. Diberi kesempatan untuk belajar benar-benar karunia. Visi saya masih sempit dalam banyak hal, tapi dengan pendidikan saya berharap bisa memperluas pandangan saya tentang segala sesuatu. Saya ingin terus belajar di universitas sampai saya mati".

Sumber : Liputan 6

Editor : Azka